Alaku
Alaku
banner 728x250

Federasi Serikat Pekerja NIBA Berduka, Tokoh Buruh Bengkulu Marhot Siregar Tutup Usia

banner 120x600

Bengkulu – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Federasi Serikat Pekerja Niaga, Bank, Jasa, dan Asuransi (F.SP NIBA) atas wafatnya salah satu tokoh buruh senior Kota Bengkulu, Marhot Siregar, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pejuang hak-hak pekerja.

 

banner 325x300

Almarhum menghembuskan napas terakhir pada 28 Juli di kediamannya di Kelurahan Tengah Padang, Kota Bengkulu. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, serta rekan-rekan seperjuangan di lingkungan Federasi Serikat Pekerja NIBA dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).

 

Semasa hidupnya, Marhot Siregar dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib kaum buruh. Ia tidak pernah tinggal diam ketika melihat pekerja diperlakukan secara tidak adil oleh perusahaan. Dedikasi dan komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak pekerja telah dimulai sejak tahun 1980 dan menjadikannya salah satu tokoh buruh yang disegani di Kota Bengkulu.

 

Ketua Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan (F.SP PP), Provinsi Bengkulu Zawawi Khatab, mengaku sangat terpukul atas kepergian almarhum. Menurutnya, beberapa waktu sebelum wafat, Marhot Siregar masih sempat berbincang dengannya meski dalam kondisi kesehatan yang menurun.

 

“Saya tidak menyangka Bang Marhot akan pergi untuk selama-lamanya. Padahal kami masih sempat berbincang, dan beliau masih memiliki banyak rencana untuk membesarkan gerakan buruh, termasuk membentuk dan memperkuat Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI). Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan cita-citanya akan terus kami lanjutkan,” ujar Zawawi.

 

Ungkapan duka juga disampaikan Ketua Federasi Serikat Pekerja Niaga, Bank, Jasa, dan Asuransi (F.SP NIBA) Provinsi Bengkulu, Rinto Siregar. Ia mengaku kehilangan sosok yang bukan hanya sebagai abang, tetapi juga mentor yang memperkenalkannya pada dunia organisasi serikat pekerja.

 

“Saya sangat kehilangan sosok Bang Marhot Siregar. Selain sebagai abang saya, beliau adalah orang yang mengenalkan saya ke serikat buruh. Dari beliau saya banyak belajar tentang memperjuangkan hak-hak pekerja dan membela kaum buruh. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi saya pribadi maupun bagi gerakan serikat pekerja di Bengkulu,” tutur Rinto.

 

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, pada malam kedua setelah kepergian almarhum digelar tabligh musibah yang dihadiri para ketua federasi serikat pekerja di bawah naungan KSPSI AGN. Kehadiran para pengurus dan anggota serikat pekerja menjadi bukti bahwa almarhum merupakan sosok yang dihormati dan memiliki jasa besar dalam perjalanan gerakan buruh di Provinsi Bengkulu.

Kepergian Marhot Siregar meninggalkan warisan semangat perjuangan bagi para pekerja. Dedikasi, keberanian, dan komitmennya dalam membela hak-hak buruh diharapkan dapat terus menginspirasi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh pekerja di Indonesia.

AN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *