Bengkulu Utara – Suara Rafflesia.com Keterlambatan distribusi pupuk di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, berbuntut serius. Sebanyak 30 petani dilaporkan mengalami gagal panen setelah tanaman padi mereka menguning akibat kekurangan unsur hara. Total kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Muklas (52), salah satu petani terdampak, menyebut pupuk yang seharusnya diterima pada awal masa tanam baru tiba ketika tanaman memasuki fase akhir pertumbuhan. Kondisi tersebut membuat pemupukan tidak lagi efektif. “Kami sudah menunggu sejak awal musim tanam. Karena pupuk terlambat, padi keburu menguning dan banyak bulir yang tidak terisi,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).
Menurut para petani, keterlambatan ini sangat mempengaruhi produktivitas sawah. Sejumlah lahan bahkan tidak bisa dipanen karena tanaman tumbuh tidak maksimal. Mereka menilai distribusi pupuk seharusnya dapat dijadwalkan lebih baik mengingat kebutuhan pupuk sudah dapat diprediksi sejak awal musim tanam.
Kepala Desa Malakoni, Tedy Sunardi, SE, membenarkan adanya laporan kerugian dari warganya. Ia mengatakan pemerintah desa telah menyampaikan persoalan tersebut kepada distributor pupuk dan instansi terkait di Kabupaten Bengkulu Utara. “Kami sudah berkoordinasi dan meminta ada solusi. Petani tidak bisa dibiarkan menanggung beban ini sendiri,” tegasnya.
Di sisi lain, wilayah Kecamatan Enggano yang berada di daerah kepulauan memang kerap menghadapi kendala distribusi logistik akibat faktor cuaca dan transportasi laut. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu tantangan dalam penyaluran pupuk ke wilayah tersebut.
Para petani berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi pupuk, serta dukungan nyata dari pemerintah daerah untuk membantu pemulihan ekonomi warga menjelang musim tanam berikutnya
(ASR)















